Ringkasan:
Memilih pemanis pengganti gula untuk kopi dan teh tidak hanya soal tingkat kemanisan, tetapi juga perlu memperhatikan aftertaste agar tidak mengganggu cita rasa minuman. Jenis pemanis tertentu juga dapat memiliki tingkat kemanisan dan karakter rasa yang berbeda.
Pemanis yang tepat sebaiknya tetap nyaman digunakan pada minuman panas maupun dingin, serta memiliki profil rasa yang seimbang sejak awal diminum hingga rasa manisnya menghilang. Kemasan dengan takaran praktis juga dapat memudahkan penggunaan sehari-hari.
Mengganti gula pasir dengan pemanis rendah atau tanpa kalori dapat menjadi salah satu cara mengurangi asupan gula dan kalori dari minuman. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan takaran yang dianjurkan dan diimbangi dengan pola hidup aktif.
Bagi sebagian orang, makan siang belum afdol kalau tidak ditemani es teh manis. Setelah itu, iced coffee latte atau minuman kopi lainnya biasanya jadi pilihan supaya tetap melek dan fokus sampai sore. Tanpa sadar, kebiasaan menikmati kopi atau teh dengan tambahan gula bisa membuat asupan gula harian jadi berlebih.
Oleh karena itu, banyak orang mulai menerapkan cutting sugar, salah satunya dengan mengganti gula pasir menggunakan pemanis tanpa kalori atau tidak mengandung gula. Tapi, jangan sampai niatnya mengurangi gula malah bikin kopi atau teh jadi kurang enak.
Supaya kopi dan teh tetap nikmat tanpa tambahan gula berlebih, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan saat memilih pemanis pengganti gula. Ini dia ciri pemanis pengganti gula yang paling pas untuk minum kopi dan teh.
BACA JUGA: Mengenal 6 Jenis Pemanis, Mana Saja yang Aman?

Image: Magnific
Pernah tidak, niatnya cuma bikin kopi atau teh pakai pemanis pengganti gula, tapi malah kemanisan? Hal tersebut bisa saja terjadi karena tingkat kemanisan setiap pemanis pengganti gula berbeda.
Contohnya, menurut penelitian dari jurnal Molecules, steviol glycosides dari tanaman stevia termasuk pemanis intensitas tinggi yang bisa terasa sekitar 100–300 kali lebih manis dibandingkan gula. Karena tingkat kemanisannya tinggi, jumlah stevia yang dibutuhkan untuk menghasilkan rasa manis pada minuman relatif sedikit.
Selain itu, asesulfam-K dan sukralosa juga termasuk pemanis dengan intensitas tinggi. Asesulfam-K punya tingkat kemanisan sekitar 200 kali lebih tinggi daripada gula, sedangkan sukralosa sekitar 600 kali gula.
Sementara itu, menurut Journal of AOAC International, pemanis sorbitol memiliki tingkat kemanisan sekitar 50–70% dari kemanisan gula pasir.
Perbedaan karakter bahan ini membuat beberapa jenis pemanis sering dikombinasikan satu sama lain untuk menghasilkan rasa manis yang seimbang. Oleh karena itu, pemanis yang cocok untuk kopi dan teh bukan sekadar yang paling manis, tetapi yang rasa manisnya pas dan tidak menutupi rasa asli minuman.
BACA JUGA: Mau Beralih ke Pemanis Pengganti Gula? Jangan Lewatkan 5 Tips Ini!
Selain manisnya, coba perhatikan juga rasa yang tertinggal di mulut setelah kopi atau teh diminum.
Hal ini dikarenakan beberapa pemanis pengganti gula bisa meninggalkan aftertaste pahit atau rasa yang berbeda dari gula pasir. Kalau manisnya terlalu kuat, minuman yang tadinya mau dibuat lebih ringan gulanya justru jadi tidak enak di mulut dan bisa bikin Anda berpikir kembali menggunakan gula pasir.
Hal ini ditemukan dalam jurnal Foods tahun 2022 yang menguji beberapa jenis pemanis pada minuman jus buah. Hasilnya, minuman dengan pemanis tertentu (pada penelitian ini menggunakan pemanis stevia) terasa lebih pahit aftertaste-nya pada kondisi tertentu, yang kemudian membuat tingkat penerimaan konsumen terhadap minuman yang diuji dalam penelitian jadi menurun.
Namun di sisi lain, penelitian tahun 2024 dari Food Chemistry menemukan bahwa mencampurkan asesulfam-K dengan beberapa jenis pemanis lainnya dapat membuat rasa manis terasa lebih kuat sekaligus mengurangi sensasi pahitnya.
Jadi, memilih pemanis untuk kopi dan teh bukan hanya soal seberapa manis rasanya, tetapi juga rasanya setelah diminum. Pengganti gula yang tepat bisa membantu menghasilkan rasa manis yang lebih seimbang tanpa aftertaste yang mengganggu di lidah.

Image: Magnific
Yang manis-manis memang enak dinikmati dalam keadaan panas maupun dingin. Kopi pagi biasanya lebih enak kalau masih hangat, sementara es teh atau iced latte tentu lebih segar kalau disajikan dingin.
Oleh karena itu, pemanis yang dipilih sebaiknya tetap nyaman digunakan pada kedua jenis minuman tersebut.
Beberapa jenis pemanis pengganti gula punya karakter yang cukup stabil terhadap panas. Menurut Food Research International, pemanis berbahan steviol glycosides menunjukkan stabilitas termal yang lebih tinggi dalam pengujian, dengan suhu awal dekomposisi sekitar 170°C. Selain itu, sorbitol dan asesulfam-K juga memiliki karakteristik yang cukup stabil terhadap panas sehingga dapat digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman.
Dengan begitu, pemanis seperti steviol glycosides, sorbitol, dan asesulfam-K dapat memberikan fleksibilitas dalam penggunaannya pada berbagai jenis minuman. Tinggal sesuaikan takarannya dengan selera, lalu campurkan ke kopi atau teh hangat maupun dingin.
BACA JUGA: Meeting Makin Produktif dengan Snack Box Bergizi Seimbang
Pemanis pengganti gula ternyata punya waktu muncul rasa manis yang berbeda-beda. Ada yang rasa manisnya cepat terasa setelah diminum, ada yang baru terasa beberapa saat, dan ada juga yang bertahan lama.
Kondisi ini disebut sebagai profil sensori temporal, yaitu melihat bagaimana sensasi rasa berubah selama seseorang menikmati makanan atau minuman.
Penelitian dalam Journal of Sensory Studies tahun 2023 menunjukkan bahwa pada tingkat penggantian tertentu, pemanis aspartam, erythritol, dan sukralosa memiliki profil sensori yang tidak berbeda signifikan dari gula.
Sementara itu, asesulfam-K dalam jumlah banyak dapat menimbulkan sensasi pahit, sedangkan pemanis rebaudioside M punya profil rasa seperti licorice dan pahit.
Jadi, untuk kopi dan teh, produk pemanis yang ideal bukan hanya yang bisa memberikan rasa manis sesuai selera, tetapi juga punya karakter rasa yang pas sejak awal hingga minumannya habis. Dengan begitu, rasa manisnya tidak terasa terlalu cepat, terlambat, atau bertahan terlalu lama di lidah.
Pemanis pengganti gula sebaiknya tidak bikin sulit saat digunakan. Apalagi kalau cuma mau bikin secangkir kopi sebelum mulai kerja atau teh sore setelah beraktivitas.
Pemanis kemasan sachet bisa jadi pilihan praktis karena takarannya sudah ditentukan untuk sekali penggunaan, sehingga tidak perlu repot mengira-ngira berapa banyak harus ditambahkan ke dalam kopi atau teh.
Selain lebih mudah digunakan, kemasan sachet juga membantu memberikan takaran yang lebih praktis dan konsisten saat digunakan.
BACA JUGA: Cek Yuk, Apakah Gaya Hidupmu Sudah Cukup Seimbang Meski Masih Sering Konsumsi Gula?

Kalau sedang mencari pemanis pengganti gula yang pas untuk minum kopi atau teh sehari-hari, Nulife Sweetener bisa menjadi pilihan.
Nulife Sweetener merupakan pengganti gula dengan nol kalori, sehingga dapat membantu mengurangi asupan kalori dari gula ketika digunakan sebagai pengganti gula pasir.
Nulife Sweetener dapat digunakan pada berbagai minuman, baik panas maupun dingin. Jadi, bisa digunakan untuk berbagai minuman, mulai dari kopi panas sebelum kerja, es teh saat siang hari, sampai iced latte favorit.
Dikemas dalam sachet juga membuat penggunaannya lebih praktis karena 1 sachet dapat dilarutkan dalam 150 ml minuman, baik panas maupun dingin.
Cara pakainya pun simpel, cukup buka satu sachet Nulife Sweetener, tuangkan ke dalam minuman, lalu aduk sampai larut. Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan takaran yang dianjurkan pada kemasan.
Jadi, masih khawatir menikmati yang manis-manis? Tenang aja, selama digunakan sesuai takaran dan diiringi dengan pola makan seimbang serta gaya hidup aktif, Anda tetap bisa menikmati kopi atau teh dengan rasa manis sesuai selera. Why not? Kan Ada DIA.
Referensi:
Orellana-Paucar, A. M. (2023). Steviol glycosides from Stevia rebaudiana: An updated overview of their sweetening activity, pharmacological properties, and safety aspects. Molecules, 28(3), 1258. https://doi.org/10.3390/molecules28031258
Starkey, D. E., Wang, Z., Brunt, K., Dreyfuss, L., et al. (2022). The challenge of measuring sweet taste in food ingredients and products for regulatory compliance: A scientific opinion. Journal of AOAC International, 105(2), 333–345. https://doi.org/10.1093/jaoacint/qsac005
Medeiros, A., Tavares, E., & Bolini, H. M. A. (2022). Descriptive sensory profile and consumer study impact of different nutritive and non-nutritive sweeteners on the descriptive, temporal profile, and consumer acceptance in a peach juice matrix. Foods, 11(2), 244. https://doi.org/10.3390/foods11020244
Choi, Y., Wong, R. R., Cha, Y. K., Park, T. H., Kim, Y., & Chung, S.-J. (2024). Sweet–bitter taste interactions in binary mixtures of sweeteners: Relationship between taste receptor activities and sensory perception. Food Chemistry, 459, 140343. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2024.140343
Santana, N. da S., Mothé, C. G., de Souza, M. N., & Mothé, M. G. (2022). Thermal and rheological study of artificial and natural powder tabletop sweeteners. Food Research International, 162(Part A), 112039. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2022.112039
Dragomir, N., Grigore, D.-M., & Pogurschi, E. N. (2025). Beyond sugar: A holistic review of sweeteners and their role in modern nutrition. Foods, 14(18), 3182. https://doi.org/10.3390/foods14183182
Grembecka, M. (2015). Sugar alcohols—their role in the modern world of sweeteners: A review. European Food Research and Technology, 241, 1–14. https://doi.org/10.1007/s00217-015-2437-7
Andersen, G. H., Alexi, N., Sfyra, K., Byrne, D. V., & Kidmose, U. (2023). Temporal check-all-that-apply on the sensory profiling of sucrose-replaced sweetener blends of natural and synthetic origin. Journal of Sensory Studies, 38(4), e12838. https://doi.org/10.1111/joss.12838